Zona Hitam, Penduduk Surabaya Terancam `Punah

SURABAYA – Zona merah yang  berubah menjadi hitam dalam sebaran Virus Corona (Covid-19) akan menjadi petanda `kepunahan` manusia buat kota Surabaya, Jawa Timur.

Berikut penjelasan sumber-sumber resmi.

Dilansir dari Tribunnews, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, warna Kota Surabaya dalam peta sebaran Virus Corona di Jatim sebenarnya merah tua, bukan hitam.

Di sisi lain Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma mengungkap faktor-faktor yang membuat angka positif Corona di Surabaya tercatat tinggi.

Seperti diketahui, dalam peta sebaran Covid-19 di Jawa Timur, Kota Surabaya terlihat seperti berwarna hitam sejak empat hari terakhir.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi mengatakan, warna hitam menunjukkan kasus Covid-19 di daerah tersebut lebih dari 1.025 kasus.

“Semakin banyak catatan kasusnya, warna di peta sebaran akan semakin pekat hingga berwarna hitam,” ujar Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (2/6/2020).

Hingga Selasa (2/6/2020) malam, kasus Covid-19 di Surabaya mencapai 2.748 kasus.

Di peta sebaran, warna lain yaitu merah pekat terdapat di wilayah Kabupaten Sidoarjo dengan 683 kasus dan Kabupaten Gresik 183 kasus.

Di peta sebaran yang terdapat batas wilayah 38 kabupaten dan kota, semua berwarna merah.

Kepekatan warna merah tergantung jumlah kasus yang ada di daerah tersebut.

Hingga Selasa malam, kasus Covid-19 di Jawa Timur bertambah 194 kasus, atau total menjadi 5.132 kasus.

Tambahan 194 kasus berasal dari Surabaya 115 kasus, Sidoarjo 19 kasus, Bangkalan dan Sampang masing-masing 11 kasus, Lamongan, Tuban, dan Pamekasan masing-masing tujuh kasus, Gresik dan Kabupaten Kediri masing-masing lima kasus, Kabupaten Mojokerto tiga kasus, serta Kabupaten Pasuruan dan Jember masing-masing dua kasus.

Pasien sembuh bertambah 100 orang atau totalnya menjadi 799 kasus. Sedangkan pasien meninggal bertambah 11 pasien atau menjadi 429 pasien.

Total Orang Dalam Pantauan (ODP) mencapai 24.923 orang dan Pasien Dalam Pantauan (PDP) 6.754 pasien.

Khofifah sebelumnya sempat menanggapi perihal kondisi Kota Surabaya yang masuk kategori zona membahayakan ini.

“Tadi ada yang tanya kok masuk hitam, kenapa di Surabaya kok masuk hitam, itu merah tua.  Yang bikin pewarnaan ini mas dokter Jibril, jadi ada warna-warna merah tua, ada merah maron, dan merah-merah biasa,” terang Khofifah, Senin (1/6/2020) malam.

Menurut Khofifah, warna pada peta sebaran itu muncul dari angka yang terkonfirmasi Covid-19, sehingga semakin banyak angka positif virus Corona, maka warna di peta sebaran akan semakin tua.

“Kalau misalnya Sidoarjo 513 sampai 1024, maka warnanya semakin tua. Kalau angka di atas itu, maka warnanya merah tua sekali.

Kenapa ada perbedaan warna, karena melihat perbedaan secara kuantitatif, jadi yang terkonfirmasi positif di masing-masing daerah,” papar Khofifah.

PSBB Surabaya Raya Tahap 3 berlangsung hingga Senin (8/6/2020) mendatang.

Penjelasan Risma, •disalah satu Televisi swasta, Wali Kota Surabaya,Tri Rismaharini atau Risma menanggapi penyebab Virus Corona di daerahnya begitu banyak.

Risma mengatakan bahwa Surabaya banyak kasus Virus Corona karena banyaknya tes yang dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa semua orang yang kemungkinan memiliki potensi terjangkit Virus Corona langsung dites.

“Jadi tadi saya sampaikan begitu kami punya alat maka pasien yang masuk ODR (Orang Dalam Risiko), OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan) langsung kita tes semua.”

“Kalau kita delay satu minggu, maka dia bisa menular meskipun sudah dikarantina, menular di keluarganya,” jelas Risma.

“Mungkin dulu hanya satu di keluarga itu, tapi kemudian karena dia satu rumah tidak dipisahkan, karena kita tidak punya alatnya bahwa dia memang positif, dia kita isolasi karena masuk di kelompok tadi.”

“Nah begitu kita tes, maka kemudian yang kita isolasi menjadi confirm, menjadi positif.”

“Nah itulah yang tadi saya sampaikan kenapa menjadi besar,” jelasnya.

Risma mengatakan Pemkot Surabaya juga telah banyak melakukan rapid test massal.

Jika ada warga yang reaktif Covid-19, maka orang itu akan ditempatkan di sebuah hotel.

“Maka kemudian kita lakukan semua dengan rapid test nah sekarang kita sudah punya alatnya, kemudian kita pisah begitu dia reaktif.”

“Nah itulah yang tadi saya sampaikan kenapa menjadi besar,” jelasnya.

Risma mengatakan Pemkot Surabaya juga telah banyak melakukan rapid test massal.

Jika ada warga yang reaktif Covid-19, maka orang itu akan ditempatkan di sebuah hotel.

“Maka kemudian kita lakukan semua dengan rapid test nah sekarang kita sudah punya alatnya, kemudian kita pisah begitu dia reaktif.”

“Setelah dia kita pisah kita lakukan swab,” katanya.

Jika hasil swab positif tanpa gejala maka para pasien akan ditempatkan di asrama haji.

Sedangkan bagi yang sakit harus segera dirawat di rumah sakit.

Jawa Timur kini dikhawatirkan menjadi pusat penyebaran baru Virus Corona di Indonesia.

Kasus Virus Corona di Jawa Timur berada di bawah DKI Jakarta yang masih menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak Covid-19.

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin PNF, Professor Choirul Anwar Nidom angkat bicara melalui acara Metro Pagi Prime Time pada Jumat (29/5/2020).

Profesor Nidom mengatakan, hal itu terjadi karena berbagai faktor.

Bisa saja kasus Virus Corona di Jatim memang benar-benar tinggi.

“Jadi melihat data dari keadaan Surabaya khususnya atau Jawa Timur secara umum itu harus komprehensif meilihatnya tidak hanya melihat peningkatan jumlah kasus itu saja.”

“Jadi memang bisa bahwa data itu menunjukkan bahwa masih tingginya kasus di Jawa Timur dan Surabaya,” ujar Prof Nidom.

Selain itu, bisa jadi kasus Virus Corona di Jawa Timur ini tinggi karena memang jumlah pengecekan lebih tinggi dari daerah lain.

Apalagi selama ini belum ada perbandingan jumlah orang yang dites antara daerah satu dengan lainnya.

“Tapi bisa juga karena aktifnya pengujian sehingga jumlah diuji itu besar, otomatis prosentase jumlah yang positif itu akan meningkat.”

“Selama ini belum ada perbandingan dari sekian itu berapa jumlah yang disampling,” jelas Nidom.

Sehingga, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa daerah lain bisa jadi juga sama banyaknya dengan Jatim.

“Apakah sama yang disampling dengan daerah-daerah lain sehingga Surabaya tampak sebagai episentrum.”

“Mungkin saja daerah-daerah lain melakukan hal yang sama dengan Surabaya dan Jawa Timur mungkin memberikan kasus yang sama, memberikan fonemena gambaran yang sama,” katanya. KABARTODAY.com *