Usai Debat Perdana Pujian Ke Moh. Besar Bantilan Terus Mengalir

Tolitoli | Kabartoday.com- ketua Relawan Komunitas Panasakan (Kompas) menilai debat yang digelar KPU tanggal (1/11) membuat elektabilitas pasangan nomor urut 03 Amran Hi Yahya dan Moh. Besar Bantilan (Amanah Besar) semakin meningkat.

Kata dia, penampilan Moh. Besar Bantilan (MBB) semakin membuktikan bahwa dirinya patut diperhitungkan, dan usai debat Insyallah kemenangan pasangan Calon bupati nomor urut 03 itu semakin dekat.

“Debat kemarin adalah saat yang di tunggu-tunggu masyarakat Tolitoli untuk melihat penampilan Moh. Besar Bantilan. Dimana pada pembukaan debat pertama yang digelar dipalu, masyarakat melihat bahwa pak Amran yang berbicara lebih banyak di banding pak Moh. Besar Bantilan. Karena ini memang bagian awal dari strategi, pasangan Amanah Besar,” katanya Senin (02/11/2020).

Menurutnya, sangat di luar dugaan ternyata penampilan Moh. Besar Bantilan “sangat luar biasa”. Dimana Esar terlihat sangat menguasai panggung saat debat dan juga dengan kongkrit memberikan solusi solusi yang matang dan terarah dalam mengatasi persoalan kabupaten Tolitoli.

Sementara itu, Moh Juanda yang juga ketua tim advokasi Amanah Besar menyatakan, penampilan seorang anak muda Esar sapaan Moh. Besar Bantilan sangat elegant, intelektual, berwibawa dan merakyat.

“Bahkan dengan usia yang terbilang baru seumur jagung, Esar bisa menunjukan dirinya patut bersaing dengan pasangan lain, dimana saat debat kemarin dirinya saat memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan sangat berkelas dan lebih mantab lagi,” jelasnya.

Menurut pengacara amanah besar Juanda, Moh. Besar Bantilan (Esar) adalah sosok seorang anak muda (Millenial) yang sangat intelektual, bijaksana, cerdas, arif dan mengayomi. Namun low profile terlihat dalam debat tersebut dia memakai pakaian yang sederhana namun berwibawa.

“Kemudian secara nature karena beliau seorang anak Muda yang baru berumur jagung, maka sekali sekali beliau menggunakan gaya bahasa anak Muda yang gaul, yang mana bahasa Moh. Besar Bantilan (Esar) di sesuaikan dengan kondisi kekinian yang terasa sangat asyik di dengar, bukan hanya oleh generasi millenial, pembicaraan dan pujian dikalangan masyarakat luas terdengar,” pungkasya. ***TIM***