PT. Kelinci Mas Unggul Tidak Profesional Dalam Mengerjakan Proyak Gardu Induk Sulteng

Makassar, Sulsel – Kabartoday.com – Kadang realita tak sesuai ekspektasi, kata inilah yang cocok diberikan kepada PT. Kelinci Mas Unggul (KMU) yang mengerjakan proyek Gardu Induk (GI) di Sulawesi Tengah.

Ternyata pekerjaan Gardu Induk (GI) yang di kerjakan perusahaan berlebel “Unggul”, sesunggguh tidak seperti Lebel Aslinya.

Dimana Pekerjaan Gardu Induk (GI) di lapangan masih jauh dari harapan kata selesai. Perlu diketahui lima proyek Gardu Induk (GI) yang saat ini sementara dalam tahap pengerjaan, dan Tiga Proyek yang di kerjakan PT. KMU di Kabupaten Donggala, Tojo Una-una dan Palu yang sudah berlangsung dua tahun semuanya masih di bawah Standar, “minus”.

Berbeda dengan pekerjaan yang sama yang di kerjakan oleh PT. Amanda Gumulung Sejahtera (AGS) di Maahas Luwuk Selatan Kabupaten Banggai yang progresnya telah mencapai 89,237 persen, serta yang dikerjakan PT. Niaga Mas Setiausaha (NMS) di Kel. Baiya, Palu Utara yang juga baru mencapai 30,543 persen, sedikit lebih satu digit koma, dari capaian fisik pekerjaan GI PT. KMU di Limboro, Donggala.

Pekerjaan GI PT. KMU di Limboro Donggala yang menelan anggaran Rp. 44 Miliar, progresnya baru mencapai 3.9 persen.

“Pencapaian prosentase pekerjaan sangat keciil, Begitu juga GI yang dibangun di Desa Padang Tambua, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-una (Touna) yang berbandrol Rp. 73 Miliar, hanya 8,102 persen, serta GI di Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Palu dengan anggaran Rp. 59 Miliar juga baru sekitar 29,054 persen.

Apakah ini bisa di jadikan salah contoh pekerjaan yang berlebel Unggul? “Maka bisa di bilang percuma PT. KMU milik kontraktor SUH asal Makassar itu memasang kata “unggul” pada nama perusahaannya.

Sebab, capaian fisik pekerjaan jadi tak sesuai namanya yang begitu keren, “unggul’,” Ucap RH kepada Kabar Today di Makassar.

Kepala UPP Kitring atau Manager Area Sulteng selaku pemilik dan pengelola proyek Faal Murreyza Dundah, ST yang di tenui Kabar Today baru-baru ini di Palu menjelaskan bahwa manfaat dari pembangunan GI sangat dibutuhkan dan besar perannya untuk ketersediaan listrik di suatu daerah.

“Antara lain, guna meningkatkan kapasitas listrik untuk memasok dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, guna menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat agar menjadi lebih baik,” Ungkap Faal Murreyza Dundah, ST.

Faal Murreyza Dundah, ST., dalam Harapannya, dengan adanya Gardu Induk nantinya dapat menambah kehandalan pada ketersediaan daya listrik. Disamping itu masyarakat dapat lebih merasakan betapa pentingnya kehadiran listrik, terutama bagi kepentingan investor yang masuk. Kesulawesi tengah, dan Akan berdampak terhadap pemulihan ekonomi secara nasional.

“Hal ini Sesuai program pemerintah kerja dan kerja, Ekonomi masyarakat yang bisa tumbuh dan berdaya saing agar bisa berjalan lebih baik.” pembangunan GI seperti yang sudah saya jelaskan diatas pak,” kata Faal Murreyza Dundah.

Dari pantauan media kepada masyarakat setempat terkait keterlambatan pembangunan Gardu Induk u demi kebaikan, mengapa kenyataan lapangan malah bertentangan dan progresnya jauh dari harapan. Dan banyak kalangan menilai, waktu dua tahun, terlalu lama buat menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini akan menjadi Sebuah catatan buruk, jika sampai gagal dan proyek tersebut tidak tuntas atau bahkan tidak terbangun, maka kerugian buat masyarakat lantaran tidak ada asas manfaatnya.

“Pemerintah juga merugi karena sudah menggelontorkan dana ratusan miliar, tapi tidak berjalan dengan baik. Sama dengan menghambur-gamburkan keuangan negara karena anggaran terbuang percuma. “Sama dengan membuang garam ke laut,” imbuh salah satu sumber.

“Sekarang sudah tahun 2021 bos. Zamannya harus fokus kerja dan terus bekerja membangun negeri. Dikepemimpinan Jokowi periode kedua, jangan malas dan apatis. Kerja dengan semangat pantang menyerah demi pembangunan daerah agar lebih maju. Ini uang rakyat yang dibelanjakan oleh negara boss” tegas salah satu masyarakat.

Ditambahkannya lagi, dengan pemberitaan dari media cetak dan on line di Palu, media di Makassar yang sltrlah memberitakan lambannya penyelesaian pekerjaan GI yang sudah sekitar dua tahun plus berjalan. Apalagi saat ini telah memasuki paruh tahun 2021, sulawesi tengah akan menjadi catatan khusus dari kegagalan akibat lambatnya perkerjaan yang di kerjakan oleh PT KSU.


Dalam pemantuan Kabar Today dilapangan pekerjaan GI di Sulteng yang mulai dikerjakan sejak tahun 2019 hingga menghabiskan tahun 2020 yang sudah berakhir, tidak ada perkerjaan Signifikan yang terlihat, “jalan ditempat”.

Di bulan Januari yang segera berganti ke Februari 2021, tiga titik pekerjaan PT. KMU, justru masih ada yang prosentasenya dibawah 5 persen. Sungguh memprihatinkan, dan moncong ancaman kegagalan pembangunan yang menganga, telah menanti.

Selaku kontraktor pelaksana, PT. KMU disebut-sebut mengabaikan amanat Pepres Nomor 16 Tahun 2018 tentang pelaksanaan kegiatan, yang mestinya di lokasi pekerjaan GI Limboro Donggala, terpasang papan proyek. Mengapa justru tidak? Apa yang mau ditutupi?* kasmin