PT Brantas Abipraya Disorot Dan Pertanyakan

JAYA MARHUM | TOLITOLI – PT. Brantas Abipraya (Persero) yang mengerjakan proyek pembangunan DI (Daerah lrigasi) Salugan, Desa Oyom, Kecamatan Lampasio. Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng), disorot dan dipertanyakan.

Sorotan terhadap kinerja PT. Brantas yang sudah cukup punya nama itu terkait asal-usul matrial dan kualitas matrial yang digunakan pada proyek di Salugan.

Banyak kalangan menyayangkan langkah PT. Brantas. Nama besarnya, ternyata belum bisa jadi jaminan, terkait perolehan serta penggunaan matrial pada proyek yang dikerjakannya.

Masalahnya, Brantas penggunaan matrial yang diambil dari lokasi tidak berizin. Selain itu, kualitas matrial batu, ditengarai tidak berkualitas, gampang rapuh dan kecil-kecil.

Protes tidak hanya oleh masyarakat, bahkan aparat desa melaporkannya hinges sampai ketangan KabarToday.com.

Kades Oyom Salah satu yang membeberkan ulah PT Brantas yang mengambil martial tidak berizin dari beberapa lokasi. Pasir Missy’s, diambil dari Desa Janja, Dadakitan dan matrial lainnya dari Desa Oyom sendiri.

Begitu juga batu-batu untuk fondasi, ukurannya kecil-kecil dan gampang rapuh.

Data yang diperoleh Kabar Today

Informasi yang siperoleh kantor berita ini, menyebutkan bahwa di Salugan dianggarkan tahun 2017/2020 dengan bandrol sebesar kurang lebih Rp. 212 Miliar.

Namun proyek bernomor kontrak. 203/SP.PPK-IIRWA1/SATKER PJPA-WS. PL. PP. KK/2017, belum terlihat progresnya. Begitu lapor Kades Oyom, Alimunde kepada Kabar Today baru-baru ini.

“Mana bisa batu kecil -kecil yang tidak layak, dipakai sebagai matrial fondasi irigasi. Sementara pasirnya diambil dari lokasi tidal berizin. ” kata Alimunde , mantan anggota DPRD Tolitoli via telepon selural.

Wartawan berusaha menghubungi pihak PT Brantas di lokasi proyek dari dua nomor handphone, sejak tanggal 13 Februari, sumber ogah respon kontak wartawan. KABARTODAY. com

Editing: JeM