Perpit Tolitoli Cabang Gorontalo Gelar Dialog Interaktif

ERWIN | TOLITOLI – Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Tolitoli (PERPIT) Cabang Gorontalo menggelar dialog interaktif bertema “Peran pemuda sebagai agent of change dalam menyongsong pemberdayaan daerah” di salah satu kedai Aseek yang terletak di kompleks bundaran tugu cengkeh. Kamis (13/8/2020).

Dialog Interaktif dihadiri nara sumber dari Ketua Sapma Pemuda Pancasila Moh. Yusri Dg. Mallawa dan Ketua Umum PB Perpit M. Rizki Alhajj, serta aktivis sosial Sutra Yahya Padjalani.

Pada kesempatan itu Moh. Yusri Dg. Mallawa yang di tunjuk pertama kali sebagai narasumber mengayakan, mengutip penelitian Mckensy, Yusri mengatakan Untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, pemuda harus bisa bekerjasama, mandiri, dan berani berkompetisi.

” Hal itu merupakan indikator utama untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara ‘terkeren’ di 2045,” ucapnya

Lanjut Yusri, sempat kaget ketika pertama kali di hubungi oleh panitia untuk meminta kesediaannya menjadi narasumber.

“Saya kaget ketika di hubungi oleh ketum perpit gorontalo, karena saya pikir masih banyak pemuda-pemuda di kab. Tolitoli yang secara kapasitas lebih layak dari saya,” imbuhnya

”Purna Praja, Intstitut Pemerintahan Dalam Negri (IPDN) ini juga memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya, dan berharap kegiatan seperti ini berkelanjutan dengan mengangkat topik-topik lain seperti ekonomi dan politik. Karena menurutnya kegiatan seperti ini adalah narasi besar untuk pembangunan daerah nantinya,” Tutupnya.

Sedangkan untuk narasumber kedua diberikan keoada Ketua Umum PB Perpit M. Rizki Alhajj. Mengatakan berbicara rubrik pemuda, maka tidak terlepas dari peran monumental pemuda di tengah-tengah sejarah panjang bangsa.

“Sebagai generasi penerus, pemuda harus berani menghadirkan titik balik kebangkitan kaum muda, bukannya terus-menerus terlena dengan romantika kejayaan para pendahulu. Pemuda harus tampil sebagai alternatif solusi dan agen sekaligus pengawal perubahan,” Ucap Rizki

Lanjut Rizki kembali menuturkan bahwa pemuda seharusnya tidak terjebak pada sikap apatisme dan apolitis yang mengatasnamakan idealisme.

“Besar harapan saya bagi pemerintah daerah, agar bisa memberikan ruang kerjasama dan kepedulian bagi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Tolitoli khusunya kami para pemuda,” Tuturnya.

Diakhir kegiatan Sutra Yahya Pettadjani yang menjadi narasumber terakhir menuturkan bahwa menjadi anak muda khisusnya anak muda Tolitoli harus bangga.

“Karena sudah seharusnya pemuda bisa mempertahankan identitas kedaerahannya. Kita tidak boleh malu untuk mengakui kalau kita adalah orang Tolitoli, atau putra Tolitoli” tambahnuya sekaligus menutup sesi pertama kegiatan interaktif.

Selanjutnya pada sesi tanya jawab para hadirin di persilahkan bertanya dan mengemukakan pendapat mengenai peran pemuda dimasa sekarang.

Seperti yang ditanyakan oleh salah satu mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada Jurusan Politik Pemerintahan. Nursyam mempertanyakan peran aktif pemerintah dalam mensejahterakan mahasiswa Tolitoli yang sedang menempuh study di luar daerah. Misalnya bantuan beasiswa, yang menurutnya selama ini sangat minim bahkan tidak ada.

Kegiatan ini di hadiri oleh beberapa organisasi seperti HMI, PMII, Perpit Cabang Se Indonesia, Karang taruna, Organisasi internal dari beberapa kampus yang ada di Tolitoli dan beberapa eksponen pemuda lainnya.

Sesi terakhir ditutup dengan closing statement dari para narasumber yang diwakili oleh Ketua PB Perpit.

Sebagai penutup, Rizki mengatakan, pemuda hari ini jangan mau dijadikan sekadar komoditas politik.
Sedangkan ketika berbicara persoalan kebijakan, pemuda selalu di kesampingkan.

“Pemuda seharusnya bisa menjadi kontributor utama atas gagasan dan wacana pembangunan daerah. Kedepannya, pemuda harus bisa memposisikan diri sebagai jembatan antara kewenangan dan kedaulatan,” katanya.

“Karena sangat konyol ketika nantinya anak cucu kita hanya akan berbicara hal yang sama dengan apa yang kita bicarakan malam ini,” pungkasnya Kabartoday.com