Pekerjaan Proyek Gardu Induk PT. Kelinci di Sulteng Menuai Sorotan

Palu – Kabartoday.com – Pekerjaan proyek Gardu Induk (GI) di tiga daerah di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang dilaksanakan PT. Kelinci Mas Unggul (KMU), milik “SL” asal kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). menuai Sorotan dari berbagai kalangan.

Apalagi, mengingat waktu yang terus berjalan, hingga memasuki awal 2021, kontradiktif dengan persentase fisik bangunan yang masih sangat rendah.

Selain mendapat sorotan dari berbagai media cetak dan on line di kota Palu, dan media di Makassar pun mulai menyorot lambannya penyelesaian pekerjaan Gardu Induk (GI) yang sudah berjalan sekitar dua tahun pekerjaan.

Betapa tidak, proyek APLN pembangunan Gardu Induk (GI) yang dikerjakan mulai sejak tahun 2019 hingga memasuki tahun 2021 progres pekerjaan pembangunan baru mencapai 5 Persen.

Tiga titik pekerjaan pembangunan Gardu induk (GI) yang progresnya masih di bawah standar tersebut terletak di Kecamatan Limboro, Kabupaten Donggala, Desa Padang Tambuo, Kecamatan Ampana Kota serta di Desa Baiya, Kecamatan Palu Utara.

Salah satu sumber media Kabartoday di Makassar menyebutkan, lambatnya penyelesaian pekerjaan Gardu Induk (GI) di dua kabupaten satu kota tersebut, menandakan ketidak seriusan kontraktor pelaksana dalam mengerjakan Proyek.

“Progres pekerjaan dilapangan yang sudah sangat terlambat ini menjadi bukti tidak adanya keseriusan pihak kontraktor dalam mengerjakan kegiatan pembangunan Gardu Induk (GI), dan nama besar perusahaan pemenang tender perlu dipertanyakan,” Ungkap RH

“Berarti kontraktornya tidak sungguh-sungguh alias uring-uringan dan boleh dibilang ada unsur pandang remeh,” Tutur RH

Ditempat terpisah UPP Kitring atau Manajer Area Sulteng Faal Murreyza Dundah, ST kepada media Kabartoday dan CBN mengatakan bahwa Gardu induk (GI) dibangun bertujuan untuk meningkatkan kapasitas ketersediaan pasokkan listrik, dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik.

“Harapan dari pembangunan Gardu induk, dapat menambah kehandalan pada ketersediaan daya listrik, Disamping itu masyarakat dapat lebih merasakan betapa pentingnya kehadiran listrik, terutama bagi kepentingan investor yang ada di sulawesi tengah” Ungkap Faal Murreyza Dundah, ST

“Gardu Induk milik APLN sangat dibutuhkan, dan dapat menjadi pemulihan ekonomi nasional nantinya, hal ini sesuai program pemerintah agar bisa berjalan dengann baik,” Demikian tujuan pembangunan GI seperti yang sudah saya papar diawal” kata Faal Murreyza Dundah.

Lanjut Faal Murreyza Dundah, ST menuturkan pekerjaan pembangunan GI secara umum demi kebutuhan bersama, keandalan dan sejumlah inovasi positif lainnya, dengan waktu pekerjaan dua tahun, anggaran yang besar dan progres yang masih sangat minim jelas membuat kebutuhan masyarakat agak terhambat.

“Sungguh miris jika 3 proyek yang sudah dua tahun dikerjakan hanya terrealisasi baru 3,9 persen saja, dimana Gardu Induk (GI) yang menelan anggaran Rp. 44 Miliar di Kecamatan Limboro, Kabupaten Donggala. Sekali tiga uang, proyek yang sama yakni pembangunan GI di Desa Padang Tambuo, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-una capaian prosentasenya hanya 8,102 persen serta GI Talise yang juga baru mencapai 29,054 persen,” Tuturnya

“Ini sudah masuk tahun 2021 bro. Zamannya kerja dan kerja dikepemimpinan Jokowi periode kedua, Kerja yang semangat dan tidak uring-uringan dan harus transparan,” Ungkap Faal Murreyza Dundah, ST

Ia menambahkan, jika ada dugaan keterlambatan pekerjaan harus ditelusuri dan dipublikasi sehingga kontraktornya jangan main-main. Ini uang negara dari rakyat bung.

“Selaku kontraktor pelaksana, PT. KUM telah mengabaikan amanat Pepres Nomor 16 Tahun 2018 tentang pelaksanaan kegiatan, yang mestinya di lokasi pekerjaan ada terpasang papan proyek. Jika tidak, patut diduga pihak pelaksana PT. KMU tidak transparan dan sengaja main kucing kucingan dalam.pembagunan Gardu Induk,” Pungkas Faal Murreyza Dundah, ST
*** Tim (kasmin-Jaya)***