Panen Cengkeh Edisi Tahun 2020 Bikin Petani Merugi

ERWIN | TOLITOLI – Hasil panen cengkeh tahun ini (2020) sangat mengecewakan buat sebagian para petani cengkeh yang ada di Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), pasalnya panen cengkeh tahun ini membuat biji cengkeh banyak yang berguguran akibat buruh petik tidak mau digaji murah.

Sebab, bahan baku rokok itu (Cengkeh) harganya sangat turun jauh, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana harga tahun panen lalu pernah menembus Rp 90.000 ribu per kilogram (Kering). Harga jual tahun ini hanya Rp 22.000 per kilogram (kg) untuk cengkeh basah dan Rp 65.000-68.0000 per kg untuk yang kering.

“Harga jual cengkeh dari petani lebih murah dibanding tahun lalu,” kata Roy, (35) salah seorang petani cengkeh di kelurahan Nalu kecamatan Baolan, Senin (20/1)

Anjloknya harga jual cengkeh itu tentunya berdampak terhadap hasil panen dan pengeluaran para petani setiap tahun, Sebab, upah bagi pekerja buruh petik cengkeh juga turun, meski harga petik cengkeh tahun ini turun, para petani cengkeh sudah berusaha untuk menaikkan harga petik cengkeh menjadi 5000/Liter.

“Tapi kenaikan harga yang sudah dilakukan para petani untuk buruh petik cengkeh, tak kunjung membuat para buruh petik cengkeh ingin menerima upah petik yang di berikan.” tuturnya

Walaupun petani memiliki pohon cengkeh sendiri, lanjut dia, tapi mereka merasa rugi, sebab harga untuk memetik cengkeh masih sama sementara harga jual malah turun, ditambah lagi untuk upah buruh sudah dinaikkan peminat untuk petik cengkeh makin kurang, al-hasil cengkeh para petani banyak yang tidak dapat dipetik.

“Setiap pekerja yang bantu memetik cengkeh dibayar Rp 4.000 sampai 5.000 per orang untuk satu kilogram/Liter cengkeh. Sedangkan buruh yang bekerja memisahkan cengkeh dari batangnya atau istilahnya Cudek diberi upah Rp 5.000 per Liter, toh masih banyak cengkeh yang tidak dapat dipetik, dan sudah jatuh berguguran, ” ungkap Roy.

Menurut Roy, walaupun harganya sedang anjlok, biji cengkeh tetap harus dipanen setiap tahun agar pohonnya tetap subur dan menghasilkan lebih banyak biji saat panen di tahun berikutnya, akan tetapi banyak biji cengkeh tahun ini yang gugur akibat buruh petik cengkeh yang tidak mau lagi memakan upah petik terlalu murah..

“Tahun 2020 memasuki panen raya, karena sudah masuk siklus panen dua tahun sekali. Makanya panen tahun ini hasilnya tidak sebanyak tahun lalu akibatnya biji cengkeh tidak dapat dipetik,” imbuh Roy

Petani lainnya, Guna (68) asal kabinuang kelurahan nalu mengaku sejak akhir Desember lalu hingga bulan januari ini merupakan panen cengkeh di Kabupaten Tolitoli, Guna juga mengeluhkan harga jual panen yang jauh dari harapan.

“Sekarang harga cengkeh lagi murah, enggak tahu masalahnya karena apa. Kalau kami sih, inginnya harga cengkeh itu mahal, minimal Rp 100 ribu per kilogram,” ucap Om Guna

Guna berharap pada saat panen raya saat ini dan samapi bulan Febuari mendatang harga cengkeh bisa kembali naik. Diperkirakan, panen raya kali ini akan menjadi panen merugi.

“Kalau panen tahun ini harganya busa naik, ya kami bersyukur sekali. Mudah-mudahan seperti itu,” tukas Guna KABARTODAY.com