Kapolsek Baolan: Cegah Covid 19, Mas Boy Penjual Siomay Jadi Panutan 

ERWIN | TOLITOLI – Ditengah penyebaran Pandamik Covid 19 saat ini, Salah seorang pedagang Siomay/Pentolan depan pasar Bumi harapan jalan Usman Binol kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah bernama Mas Boy tiba tiba menjadi perbincangan hangat dimedia Sosial Face Book (FB) Kamis (17/04).

Dalam Aksinya tersebut, Mas Boy yang keseharianya selalu mangkal didepan Pasar Bumi Harapan untuk menjual Siomay (Pentolan) dibanjiri pujian Positif dari masyarakat yang melintas di depan pasar, tak terkecuali Kapolsek Baolan Iptu H. Siswanto, S.H. yang saat itu sedang melaksanakan kegiatan himbauan dan pembagian masker kepada masyarakat yang sedang melaksanakan aktivitas jual beli.

Kapolsek Baolan Iptu H. SIswanto, S.H. dihadapan media mengatakan, sangat mengapresiasi terhadap salah satu penjual Siomay/pentol atas nama BOYRAN, Alias Boy, asal Banyuawangi, dimana dalam melakukan aktifitas sebagai penjual Siomay/pentol memasang pagar pembatas antara penjual dan pembeli, agar dapat menjaga jarak (Social Distancing/Physical Distancing).

“Apa Yang dilakukan mas Boy seorang penjual Siomay/Pentol, Ini demi menjaga jarak atau kontak fisik secara langsung demi memutus mata rantai penyebaran Covid 19,” Ucap Siswanto

Lanjut Siswanto, disaat wabah Pandemik menyebar dengan cepat di seluruh belahan dunia, termaksud indonesia, Social Distancing/Physical Distancing yang sering disampaikan pemerintah setiap hari dijalan, ternyata sangat dipatuhi oleh Mas Boy saat menjual Siomay/Pentol.

“Demi menjaga kesehatan bersama, Penjual Siomay/Pentol  Mas Boy tidak akan melayani pembeli yang tidak menggunakan masker saat membeli,” Pungkas.

Ditempat jualannya Mas Boy saat berbincang bersama kapolsek Baolan Iptu H. Siswanto menuturkan, sebelum adanya wabah Corona ini, saya selalu berjualan di depan pasar Bumi Harapan, Hingga munculnya Wabah ini, dirinya sebwnarnya tidak ingin menjual Siomay/Pentol sampai Wabah Corona Selesai, akan tetapi dirinya merasa jika tidak berjualan akan membuat usahanya menjadi macet, apa lagi banyak yang harus di bayar termaksud angsuran Bank.

“Untuk mendapatkan uang, dirinya terpaksa harus terus menjual Siomay/Pentolan, dengan cara selalu menjaga jarak antara pembeli dan penjual, tiba tiba terpikir lah untuk memasang pagar pembatas seperti sekang ini, dan tegas buat saya (Mas boy) Tidak akan menjual siomay/Pentol kepada pembeli yang tidak mengunakan masker, jika saya hanya mau mengejar keuntungan saja, dan harus masuk rumah sakit, itu halnya sama dengan Bohong,” Ucap Mas Boy

Diakhir ceritanya Mas Boy ingin menitip pesan kepada seluruh masyarakat Tolotoli agar selalu mengunakan masker dan sarung tangan untuk menjaga kesehatan kita sendiri dan orang lain.

Buat Sodara sodaraku “Ingat Sakit Itu harganya mahal.” KABARTODAY.com