Anggaran DD Ratusan Juta di Mantaren II, Penuh Semak Belukar

SUYANTO | PULANG PISAU | KALTENG – Pemandangan tak sedap terlihat di areal Bangunan Wisata Kuliner yang ada di Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau. Pasalnya, bangunan yang menghabiskan anggaran dari Dana Desa (DD) sebanyak ratusan juta rupiah itu terkesan terbengkalai dan hanya menjadi wisata semak belukar.

Informasi yang dihimpun oleh media ini, bangunan yang sudah selesai pada tahun 2020 tersebut rencananya akan difungsikan pada tahun 2021 ini.
Akan tetapi, hingga kini peruntukannya masih belum difungsikan sebagaimana mestinya.

Lokasi bangunan yang berada di Rei 7, tepatnya di Jalan Pacitan RT. 04 Desa Mantaren II itu, rencananya diperuntukan sebagai pusat wisata kuliner, dengan tujuan untuk mempromosikan dan menjual kuliner asli olahan warga desa setempat.

Namun, hingga sampai saat ini, pembangunan tempat wisata kuliner yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Mantaren II, dengan menggunakan Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2020 tersebut, masih juga belum terealisasi terkait fungsi dan manfaatnya sesuai dengan perencanaannya.

Salah seorang warga desa setempat yang ditemui media ini, Minggu (07/11) mengeluhkan program pembangunan yang tempat wisata kuliner yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Mantaren II, dengan menggunakan DD Tahun Anggaran 2020 tersebut, masih juga belum jelas fungsi dan manfaatnya serta terkesan hanya membuang-buang anggaran saja.

“Bagaimana tidak membuang-anggaran, mas lihat saja sendiri bangunan di lokasi itu (red), sampai saat ini tidak berfungsi bahkan di lokasi bangunan sudah ditumbuhi rerumputan liar,” jelas narasumber yang meminta namanya tidak disebutkan.

Oleh sebab itu, dirinya sangat berharap agar bangunan tersebut dapat segera difungsikan sesuai dengan perencanaan awal, agar nantinya dapat menarik minat warga baik luar maupun warga lokal, untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Sehingga, manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat setempat.

“Bangunannya kan sudah ada. Jadi, tinggal langkah bagaimana teknis dari pihak desa untuk segera difungsikan. Karena sampai saat ini belum terlihat asas manfaatnya bagi masyarakat kami,” cetusnya.

Hal senada juga diungkapkan, narasumber lainnya yang mengatakan bahwa beberapa bangunan di lokasi yang dicanangkan sebagai tempat wisata kuliner di desa tersebut benar adanya. Hanya saja, beberapa bangunan itu terkesan terbengkalai fungsinya, karena sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

“Kami sebenarnya juga bingung, karena bangunan itu sudah cukup lama selesainya, tapi tak ada aktivitas apa-apa di sana. Seperti apa sih perencanaan diawal tu,” celetuknya.

Sementara, dari pantauan beberapa awak media, memang benar adanya. Di lokasi wisata kuliner itu, tampak terlihat 3 buah bangunan lama dan ditambah 1 buah bangunan baru yang masih proses pengerjaan.

Informasi yang berhasil dihimpun, secara keseluruhan pembangunan beberapa buah bangunan yang bersumber dari Dana Desa (DD) tersebut, mempunyai nilai anggaran yang berbeda dan cukup fantastis.

Sejumlah bangunan yang tampak terbengkalai itu, terdiri dari lapak atau los pasar dengan anggaran kurang lebih Rp 58 juta. Selanjutnya bangunan Gazebo dengan nilai Rp. 41 juta lebih, dan bangunan khusus rumah makan kurang lebih Rp. 300 juta.

Sedangkan untuk bangunan baru dilokasi tersebut yakni, gedung olah raga yang saat ini masih dalam tahap awal pengerjaan, dengan nilai kurang lebih sebesar Rp. 253 juta. Sehingga, secara keseluruhan total dana pembangunannya menghabiskan biaya sekitar Rp 600 juta lebih (bertahap). KABAR TODAY.COM