PT Hardaya Inti Plantation Dapat Sertifikasi ISPO

Kabar Today | Buol – Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kelapa sawit dan pengolahannya, PT HARDAYA INTI PLANTATION (PT HIP) yang ber lokasi di Kabupaten Buol Sulawesi Tengah sangat bersyukur telah mendapatkan sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) dari Komisi ISPO Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian R.I. dengan nomor sertifikat BSI-ISPO 621530 sebagai perusahaan yang telah menjalankan ketentuan dalam industry kelapa sawit seperti ; Legalitas, AMDAL, memeliharan lingkungan, dan system operasional yang ramah lingkungan serta ber-kontribusi penuh terhadap pembangunan masyarakat di lingkungan perusahaan.

Dengan terbitnya sertifikat tersebut PT HIP telah menjadi sebuah perusahaan yang diakui oleh pemerintah sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pengolahannya yang memenuhi standard industri secara nasional dan internasional, dimana semua aspek dalam pengelolaannya telah sesuai dengan standard yang ditetapkan pemerintah dan konvensi RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) Internasional.

Tentunya dengan adanya sertifikat tersebut PT HIP berkewajiban untuk mempertahankan apa yang sudah dilakukan sekarang dan ke depannya akan terus menyempurnakannya melalui SOP (Standard Operation Procedure) yang ada saat ini dengan mengacu pada penyempurnaan dari Komisi ISPO, atau dengan kata lain tetap melakukan improvement pada masa-masa mendatang.

PT HIP telah beroperasi di kabupaten Buol sejak tahun 1994 setelah mengantongi Izin Lokasi yang diterbitkan oleh Pemda Kabupaten Toli-Toli Buol (saat itu), dan sampai sekarang telah mendapatkan sertifikat Hak Guna Usaha seluas 22.781 Ha terdiri atas Sertifikat No. 02/1998, 6.347 Ha dan No. 01/1998, 16.434 Ha.
Luas areal tertanam PT HIP hingga saat ini adalah 13.575 Ha dengan luasan areal yang sudah menghasilkan 13.072 Ha, dan sebuah PPKS (Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit) dengan kapasitas 45 Ton/Jam.

Saat ini PT HIP juga membina beberapa koperasi milik masyarakat sebagai mitra perusahaan dalam perjanjian kemitraan dengan 7 (tujuh) koperasi dengan luasan tanam 4.980 Ha (Sekitar 4.000 Ha sudah menghasilkan, dan TBS di jual ke perusahaan) dan masih ada beberapa koperasi yang masih menunggu untuk dibangun.

Dari luasan Plasma tersebut bergabung sekitar 2.499 petani plasma atau Kepala Keluarga, dan semua biaya pembangunan kebun plasma dibiayai oleh perusahaan. Dimana pada tahun 2017 baru 2 koperasi yang di re-financing ke Bank, sisanya masih dibiayai oleh perusahaan.

Saat ini perusahaan TERPAKSA harus menghentikan rencana pembangunan baru tersebut seperti yang terjadi di Koperasi SINAR BAHAGIA, karena dihentikan oleh pihak Pemda Buol.
Di luar kerjasama perusahaan dengan koperasi tersebut, perusahaan juga membina plasma mandiri yang tidak tercakup dalam koperasi karena areal yang terpencar-pencar sebanyak 3.800 Ha, dimana perusahaan memberikan bantuan pinjaman bibit dan melakukan pembinaaan hingga tanaman menghasilkan, dengan petani yang terlibat disana sekitar 4.318 petani.

Perusahaan senantiasa akan terus meningkatkan produktivitas yang berkelanjutan dalam koridor aturan main dan hukum yang berlaku, dan mengghindari hal-hal yang bertentangan dengan regulasi pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah. Selain itu perusahaan juga terus berupaya meningkatkan kerjasama dengan masyarakat di sekitar perusahaan, agar kehadiran perusahaan memberikan dampak yang NYATA terhadap kesejahteraan masyarakat.
Namun tentunya dalam hal ini perusahaan sangat mengharapkan kerjasama dari masyarakat dan pemerintah dalam hal ini Pemda setempat.
Saat ini karyawan yang bekerja secara langsung di perusahaan adalah 2.872 orang, dengan komposisi 91.53% adalah masyarakat Buol, Dari luar Buol 3.62% masyarakat Sulawesi Tengah dan sisanya 4.85 % adalah orang dari luar Sulawesi Tengah.

Memasuki tahun 2018 ini, perusahaan masih menunggu sikap dari Pemda Buol atas beberapa masalah seperti :
1. Rekomendasi Terminal Khusus dari Bupati Buol yang hingga saat ini belum diberikan dengan alasan pelabuhan yang perusahaan sewa dari Pemda akan dijadikan kawasan hijau.
Apabila s/d bulan Juni 2018, surat rekomendasi tersebut tetap tidak diberikan maka perusahaan akan menghentikan sementara aktivitas produksi (Panen TBS dan pengolahan PKS), karena tanki akan menjadi penuh disatu sisi izin berlayar (pemuatan CPO dan PK) perusahaan dibekukan dikarenakan belum keluarnya rekomendasi tersus dari pemda.
2. Tindakan provokatif dari oknum LSM yang menyurati beberapa instansi pusat di Jakarta yang bertujuan men-diskreditkan perusahaan, seolah-olah perusahaan melakukan tindakan melawan hukum dalam ber-investasi di kabupaten Buol.
3. Sikap Pemda terhadap masalah koperasi Sinar Bahagia, Fajar Biau yang menurut Pemda masih bermasalah, walaupun semua areal tersebut sudah ber-sertifikat.

Semoga Pemda Buol cepat menyadari akan hal-hal di atas yang sangat krusial dan bisa memberikan solusi terbaik demi kelangsungan operasional perusahaan karena sikap dari pemda tentu akan mempengaruhi kebijakan perusahaan.
Kita harus sepakat bahwa kehadiran PT HIP disana bukan untuk merampas tanah rakyat, bukan untuk memiskinkan rakyat, bukan untuk meng-exploitasi lahan ataupun masyarakat, namun kehadiran perusahaan disana adalah murni untuk berusaha (bisnis) dengan tetap memperhatikan kaidah2 hukum yang berlaku, tidak merugikan masyarakat dan berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan bersama. ( Ricky Muda )