Mari Mengenal Pasar Apung Banjarmasin

Santi M | KABARTODAY.COM | Banjarmasin – Pasar Muara Kuin di tepi Sungai Barito yang menjadi pasar apung tradisional tertua di Indonesia. Pasar tradisional yang kita kenal pada umumnya adalah sebuah tempat berjual-beli di atas tanah dan kita akan menemui macam-macam warung di dalamnya. Namun, pasar Muara Kuin ini memang berbeda dan unik karena kegiatan jual-belinya berada di atas sungai menggunakan perahu-perahu kecil sebagai lapaknya. Mengapa pasar ini menggunakan konsep pasar terapung?

Menurut penuturan salah seorang keturunan Khatib Dayan, ulama Kerajaan Banjar bernama Syarif Bistamy SE, keberadaan Pasar Terapung memang tak lepas dengan berdirinya Kerajaan Banjar sekitar tahun 1595. Awalnya pasar ini memang sudah ada sejak abad ke-14, sebelum Kerajaan Banjar berdiri. Namun, dengan berdirinya Kerajaan Banjar, pasar ini menjadi semakin hidup.
.
pasar apung tempoe doeloe
.
Kawasan pasar apung ini merupakan bagian dari pelabuhan sungai Bandarmasih. Pelabuhan sungai ini meliputi aliran Sungai Barito, dari Sungai Kuin hingga Muara Sungai Kelayan. Berdasarkan catatan sejarahnya, Pasar Terapung merupakan pasar yang tumbuh secara alami karena posisinya yang berada di pertemuan beberapa anak sungai sehingga menjadikan kawasan ini sebagai tempat perdagangan.

Banjar memang memiliki kondisi alam yang dikenal dengan negeri beribu sungai sehingga hanya memiliki prasarana transportasi sungai. Dengan membuka lapak di sungai ini akan memudahkan para pedagang yang membawa barang dagangan berupa hasil bumi dari arah hulu untuk melakukan jual-beli.

Pasar Terapung semakin ramai sejak didirikannya Kerajaan Banjar dengan kenaikan Pangeran Samudera sebagai raja oleh para patih yang dipelopori oleh Patih Masih pada tahun 1526. Pasar inipun menjadi aset penting bagi ibukota kerajaan.

Menurut Ayip, sapaan akrab Syarif Bistamy, keberadaan Pelabuhan Bandarmasih dan Pasar Terapung juga tak lepas dari berkembangnya Kerajaan Banjar baik secara ekonomi maupun politik. Dimana, di pusat Kerajaan Banjar di kawasan Kuin, banyak pedagang dari Jawa, Gujarat (India) dan Cina yang melakukan aktivitas perdagangan dengan masyarakat Banjar, ketika itu. Secara politik, kawasan Pasar Terapung juga tak luput menjadi medan pertempuran antara Kerajaan Banjar dengan Kerajaan Negara Daha, yang hanya terpicu dendam keluarga.

Meski Kerajaan Banjar sudah runtuh, namun pasar Muara Kuin masih penuh hiruk pikuk setiap pagi hingga kini
.
pasar apung 1
.
Meski sempat menjadi medan pertempuran perang saudara Kerajaan Banjar, namun Pasar Terapung Muara Kuin masih tetap ada sampai sekarang. Pun ketika Kerajaan Banjar sudah runtuh, kawasan tepi Sungai Barito masih ditinggali warisan Masjid Sultan Suriansyah.

Karena keunikannya, Pasar Terapung pun dijadikan aset negara oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1980 dan masih tetap eksotis sampai sekarang. ***

Comments

comments