Husen Idrus Alhabsyie : Mari Jaga Persatuan Dalam Menjaga NKRI

Kabar Today

Ketua Umum PP HPA Husen Idrus Alhabsyie mengimbau semua semua kader HPA dan pemuda secara Nasional agar tidak menciptakan kegaduhan menjelang Pileg dan Pilpres 2019.

Memberi pengertian tentang berpolitik yang santun kepada masyarakat adalah bagian dari tugas pemuda sebagai garda depan menjaga keutuhan NKRI.

“Kondusifitas bangsa sangat penting. Jangan sampai pesta demokrasi dinodai oleh kerusuhan dan perpecahan bangsa. Walaupun kondisi penyelenggaraan Pilkada yang telah kita lakukan selama ini membuka celah bagi politik biaya tinggi, korupsi maupun kerusuhan sosial.

Ini yang harus kita antisipasi bersama,” tutur Ucen Sapaan Akrab Ketum PP HPA.

Kondisi saat ini di tengah masyarakat menjelang pileg dan pilpres tentunya menjadi perhatian public,tidak luput pula dari pengamatan Himpunan Pemuda Alkhairaat Pusat.

Menurut Himpunan Pemuda Alkhairaat ini polemic yang berkembang dan meningkatnya aksi terhdap kondisi politik tersebut perlu adanya upaya konsolidasi pemuda dlam menyikapi hal ini.

Pemuda harus nya sebagai barisan yang ada ditengah kondisi berbangsa dan bernegara saat ini tentunya dapat mengurai apa yang memotifasi kondisi hari menjadi aneh saat orang ramai-ramai menyikapi berbgai macam isu politik.

Sekilas ucen bercerita, Sebagai salah satu lembaga pemuda yang berada di nasional Peran Pemuda Alkhairaat  menjadi bagian penting dari kondisi yang terjadi saat di tengah masyarakat yang harus di sikapi secara bersama.

Mengingat sejak lahir dan berkembang nya di Sulawesi Tengah,Pemuda Alkhairaat dalam setiap langkah dan perjuangan selalu menjadikan Pendiri Alkhairaat H.S Idrus Bin Salim Aldjufrie sebagai patron gerakan dimana pun Pemuda Alkhairaat berada.

Dengan menyikapi banyak nya di antaranya indikasi isu politisasi Agama menjelang pileg dan Pilpres 2019, Menurut Pemuda Alkhairaat, Dalam menyikapinya isu agama salah satu potret buram tatanan konstruksi demokratisasi yang sejak lama dibangun di Indonesia.

Agama dilibatkan dalam politik praktis sebaiknya DIBATASI dan DI HINDAR. Fatal jika agama ikut diseret dan bahkan dijadikana sebagai alat politik golongan tertentu! Isu politisasi agama berdampak buruk bagi keberlangsungan demokratisasi bangsa yang sangat majemuk ini.

Kemajemukan Indonesia sangat Nampak dan di akui dunia inilah yang harus terus di jaga.

Tak bisa dipungkiri bahwa, menjual simbol-simbol agama dianggap cara yang paling mudah dan cepat dalam meraup suara rakyat dan bisa dipastikan dalam kampanye politik, semuanya menjual simbol agama untuk meraih simpati publik.

Paradigma yang harus dibangun dan terus kita lakukan ialah mengedukasi kepada masyarakat; politik itu sesungguhnya memilih pemimpin yang bisa membawa Negara yang dipimpin ke arah yang lebih baik, maju dan mensejahterakan rakyatnya.

Bukan hanya persoalan isu agama yang dianutnya.

Kita harusnya bersepakat untuk tidak lagi terjebak pada sentimen agama yang berlebihan, dan bukan pula soal siapa yang menjadi pemimpi saat ini tapi soal urgensi Pemuda dalam menjaga keutuhan NKRI menjadi penting dan menolak semua bentuk sentimen kelompok tertentu,serta menolak semua bentuk politisasi agama yang sengaja memecah belah bangsa.

Secara tegas ini adalah sebuah bentuk Komitmen ketulusan mengabdi Himpunan Pemuda Alkairaat kepada NKRI serta dalam menjaga amanah Pendiri alkhairaat “Guru tua “.

Pesta demokrasi menjelang pileg dan pilpres baik nya di nikmati dan di jalani penuh dengan cinta dan kasih sayang serta persaudaraan  sesama anak bangsa,sehingga apa yang menjadi cita-cita perjuangan panjang bangsa ini bisa tercapai dengan baik dan maksimal.

Independi dan netralitas secara tegas dalam pesan konstitusi HPA telah ada sejak lama ini membuktikan bahwa HPA secara kelembagaan tidak ikut berpolitik praktis sehingga marwah organisasi pemuda Alkhairaat dapat terjaga.

Pemuda Alkhairaat hanya dapat mencegah dan berhadapan apabila ada kelompok tertentu yang dengan secara terbuka membuat suasana pileg dan pilpres menjadi tidak,dengan tetap melalukan upaya Tabayyun. *** R Muda | Kota Palu

 

Comments

comments